Beltim Surga Berinvestasi

  1. Sutandy Setyawan, SE, MA, CEO PT BIG Group (TPI)

 

Siapa tak ingin berkunjung ke Belitung Timur (Beltim), kabupaten paling timur di Provinsi Bangka Belitung itu menyimpan sejuta keindahan. Panorama pantai, budaya, kerajinan serta aneka kuliner lengkap tersaji di sana. Dari segudang keindahan tersebut, Beltim juga dikenal memiliki kekayaan alam sungguh luar biasa. Hampir semua kekayaan itu berpotensi untuk dikembangkan. Tak pelak jika kini Beltim dijuluki sebagai ‘surga’ investari baru di Indonesia.

Bicara soal kelebihan dan keindahan Beltim rasanya tak akan habis untuk dibincangkan. Mulai dari laut yang biru, ombak yang tenang, pasir putih lembut nan bersih serta aneka deretan bebatuan granit besar dan eksotik terpampang rapi di sepanjang pantai, merupakan gambaran kecil bagaimana sempurnanya pulau ini. Rata-rata panorama itu masih terbilang alami, sepi, sejuk dan indah. Kombinasi sempurna itu tentu menjadikan Beltim sebagai surga wisata baru yang tak kalah menarik dibanding Bali dan Lombok.

Sedangkan untuk mencapai daerah ini juga tidak terlalu sulit. Dari Jakarta dapat ditempuh menggunakan pesawat udara sekitar 45 menit, dan dari Ibukota Provinsi Bangka Belitung hanya 40 menit saja.

Selain dikenal indah, Beltim juga menawarkan potensi investasi yang sangat menjanjikan, bahkan menjadi ‘primadona’ para investor dalam dan luar negeri, antara lain di bidang pertambangan, perindustrian, pertanian dan perkebunan, property, pariwisata serta perhotelan.

Di sektor pertanian dan perkebunan, selain masih tersedianya lahan cukup luas, sumber daya manusia untuk mendukung jalannya roda perusahaan juga cukup melimpah. Bahkan sektor ini diprediksi bakal mampu menjadi lokomotif terdepan menggerakkan laju perekonomian di Belitung Timur.

Begitu pula minat investor di bidang industri property, ritel dan jasa perbankkan, baik bank umum maupun bank syariah juga terus bermunculan. Hal ini tentu berdampak positif bagi perkembangan pembangunan sekaligus meningkatkan investasi di kabupaten tempat mimpinya anak-anak Laskar Pelangi itu.

Terbuka untuk Mitra Usaha

Dari sekian banyak perusahaan yang serius mengembangkan investasi di Belitung Timur bersama mitra investasinya adalah PT. BIG Group (TPI). Dimana group ini sudah membawahi beberapa anak perusahaan seperti PT. Botani IndoAgro Global yang bergerak di bidang management perkebunan, PT. Botani IntiAgro Global bergerak di bidang perkebunan singkong, lada, jahe, pepaya dan beberapa hasil pertanian lain, PT. Botani Investama Global bergerak di bidang Pabrik pengolahan hasil bumi, PT. Inint Agro Resort bergerak di bidang pembangunan hotel dan resort, PT. Blue Ocean Resort bergerak di bidang pembangunan Villa, PT. Trinity Solusi Persada bergerak di bidang networking dan e-commerce, PT. Belitung Batubara Indonesia bergerak di bidang pertambangan timah dan pasir kuarsa serta PT. Elsindo Media Indonesia yang bergerak di bidang publikasi dan pemberitaan.

Sedangkan bidang-bidang yang terus dikembangkan seperti perkebunan karet, management tanah, pertanian dan perkebunan, pabrik pengolahan karet, pabrik tapioka, property, pertambangan, pelabuhan serta kawasan wisata, hotel, villa dan resort.

Menurut CEO PT BIG Group (TPI), DR. Sutandy Setyawan, SE, MA eksistensi dan komitmen perusahaan merupakan kunci utama keberhasilannya dalam membangun usaha di Beltim. Tentu saja, disamping peran pemerintah daerah yang selalu memberikan kemudahan dan menciptakan alam investasi yang kondusif, sehingga mampu menumbuhkan minat investasi ke arah lebih baik.

Faktor lain sebagai pendorong tumbuhnya investasi yang semakin melesat di Beltim, terang Sutandy, yakni adanya pembangunan mega proyek kawasan wisata Desir dan Beltim River Park. Dimana pembangunan kawasan wisata bertaraf internasional ini akan dikerjakan oleh investor lokal yang bekerjasama dengan PMA asal Dubai. Sedangkan Beltim River Park pdmbangunannya dikerjakan oleh PMA asal Jepang.

“Desir merupakan salah satu contoh mega proyek hotel bintang lima bertaraf internasional. Peletakkan batu pertama pembangunan hotel yang berlokasi di Pantai Tanjung Batu Itam itu sudah dilakukan. Nantinya, di sana akan dibangun resort hotel dan villa yang langsung menghadap ke pantai. Para pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas istimewa dari hotel tersebut. Tamu pun bisa memancing di keramba-keramba ikan dan langsung menikmati,” terang Sutandy.

Minat investor untuk menggarap Beltim nampaknya belum terhenti sampai disitu. Kata pria ramah yang selalu berpenampilan rapih ini, pembangunan Beltim River Park yang lokasinya persis di sebelah barat Desir menelan biaya hingga miliaran dollar. Beltim River Park merupakan resort hotel dan private villa dengan fasilitas taraf internasional seperti floating market, canoeing, bicycling, fishing, food court, out door cultural show dan camping.

Belitung River Park dirancang secara eco wisata dengan fasilitas luar ruangan seperti ATV berkuda, bersepeda, kayak, dan memancing. Diakhir pekan, setelah disibukkan segudang aktifitas, para tamu bisa bersantai sambil memanjakan diri dengan perawatan spa mewah yang ditawarkan hotel ini.

Areal hotel juga akan dilengkapi fasilitas lain seperti restaurant serta toko-toko souvenir dimana para tamu bisa mencicipi hidangan lokal dan kerajinan khas masyarakat Belitung Timur. Hotel ini juga menyediakan ballroom yang dapat menampung tamu hingga 1000 orang, sehingga ideal untuk acara meeting dan wedding.

Dari semua fasilitas itu, kata Sutandy, sudah barang tentu, Beltim akan semakin maju dan mempunyai daya tawar tinggi. Faktor lain yang tak kalah menariknya, lanjut bapak satu anak ini, sejak Beltim dicanangkan Presiden Jokowi sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan juga tersedianya pelabuhan Marina Beach sebagai sarana transportasi arus dan barang melalui laut.

“Dengan adanya pelabuhan ini bisa mempermudah arus keluar-masuk barang yang dapat meningkatkan pendapatan dan investasi. Lokasi Marina Beach sendiri ada di Manggar. Pelabuhan ini dapat menampung hingga 100 kapal,” tutur Sutandy.

Infrastruktur lain yang tengah dipersiapkan Pemkab Belting adalah bandara udara berskala internasional. Bandara ini rencananya dibangun awal tahun dan ditargetkan rampung tahun 2019. Dengan dibangunnya bandara tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat investasi semakin besar.

“Jika semua itu telah terwujud, saya yakin Beltim akan semakin menarik untuk investasi,” optimis Sutandy.

Investasi Perkebunan Karet

Selain kawasan wisata bahari yang sedang digarap, pembangunan hotel bintang 5 di kawasan wisata Pantai Tanjung Plumpang, kebun singkong, lada super, jahe dan pepaya farietas unggul juga terus dikerjakan. Selain itu, PT. BIG Group (TPI) juga sudah lama membuka usaha di bidang perkebunan karet terpadu.

Sejak awal berdiri hingga saat ini, perusahaan managemen tanah sekaligus pengelolaan perkebunan karet terpadu ini telah berkembang dan menjadi perusahaan terkemuka di bidang perkebunan karet. Hingga tahun 2017, BIG Group telah mengelola sedikitnya 1000 – 5000 ha lahan siap produksi. Mayoritas perkebunannya ada di Renggiang dan Batu Hitam. Perusahaan ini juga terus berupaya memperluas kepemilikan lahan hingga ke beberapa daerah barat di Kabupaten Belitung Timur.

Untuk itu, CEO PT BIG Group tak henti-hentinya menyarankan kepada siapa saja yang tertarik dengan portofolio yang ditawarkan segera menghubungi PT. BIG Group di TCC Batavia Tower One 26 Floor Suite 03 Jl. KH. Mansyur Kav. 126, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10220, Telp/Fax : 021 – 2260-4921/0813 1045 7060.

“Kami selalu memberi kesempatan kepada seluruh rekan-rekan mitra bisnis tanah air yang berminat bergabung di perusahaan kami. Perusahaan kami adalah perusahaan kerjasama yang saling menguntungkan. Sesuai visi-misi perusahaan, manajemen kawasan berbasis perkebunan karet terpadu yang berorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan bersama, kami selalu berupaya untuk memenuhi semua persyaratan termasuk legalitas dan dokumen perjanjian yang sah,” terang Sutandy.

Selain itu, berkat hubungan yang luas diberbagai negara di Asia dan ketajaman bisnisnya telah menarik berbagai investor dari beberapa negara di China, Timur Tengah, dan Asean. “Hampir seminggu sekali kantor kami kedatangan investor dari luar negeri. Mereka rata-rata tertarik untuk berinvestasi di Indonesia khususnya di Belitung Timur. Karena dianggap kabupaten ini masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” terang Sutandy,

Lantas ketika ditanya mengapa memilih Beltim sebagai basis usaha? Kata CEO yang saat ini juga menduduki jabatan penting disalah satu partai politik mengatakan, setidaknya ada beberapa pertimbangan khusus sehingga groupnya memilih Beltim sebagai basis usaha. Pertama, karena Beltim merupakan kabupaten berkembang yang tengah bergeliat. Kedua, ketersediaan lahan masih terbuka lebar dan pembangunan kawasan wisata yang terus bertambah, serta adanya penetapan Belitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), merupakan faktor pendorong utama. Selain itu, penambahan daya listrik yang akan segera direalisasikan merupakan fasilitas lain yang turut memicu.

“Saya bisa katakan Beltim adalah surganya berinvestasi, selain sudah menjadi tujuan wisata favorit bertaraf internasional setelah Bali dan Lombok. Dukung pemerintah daerah, provinsi dan pusat sama-sama berkomitmen menjadikan Beltim sebagai Maldivesnya Indonesia. Dengan demikian, sudah bisa ditebak dalam kurun waktu 10 tahun Beltim akan melesat,” tutur Sutandy.

Kemudian keuntungan apa yang ditawarkan kepada mitra bisnis dan investasi ketika mereka bergabung? Menurut pria ramah pengagum tokoh Che Guevara dari Cuba ini menjelaskan, setidaknya ada beberapa keuntungan yang dapat dinikmati investor ketika mereka bergabung di perusahaannya, yaitu keuntungan yang ia sebut 6 in 1. Ini merupakan sebuah kombinasi bisnis yang saling menguntungkan; Agrobisnis; perkebunan karet super, Lahan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang harganya terus naik, Perkebunan Lada super yang nilai ekonomisnya terus meroket di pasaran dunia, Kebun singkong untuk memenuhi produksi tepung nasional, Pabrik Tapioka yang sudah beroperasi, Property; pengembangan bisnis di bidang perumahan, Villa kayu; agrowisata di tengah-tengan perkebunan karet, Resort pantai; mitra akan dimanjakan dengan pemandangan pantai Belitung yang terkenal indah dan menawan, serta Kunjungan bulanan dan Investasi dengan sistem bagi hasil bulanan.

Sedangkan managemen resiko yang ditawarkan BIG Group adalah manajemen resiko terbaik dengan pengamanan investasi berupa sistem kepemilikan lahan Berstatus Hak Milik (SHM). “Program kemitraan kami bisa diikuti siapa saja yang ingin berpeluang menerima hasil keuntungan bersih tanpa harus memiliki pengetahuan atau latar belakang di bidang pertanian dan perkebunan. Sebab, segala hal teknis mulai dari pengolahan, pemeliharaan hingga pemasaran hasil panen semua sudah ditangani perusahaan. Jadi, mitra tinggal menerima dan menikmati keuntungannya saja,” terang Sutandy.

Pria yang juga aktif diberbagai kegiatan sosial ini menegaskan, saat ini perkebunan karet merupakan basis perekonomian baru selain pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya yang terus dikembangkan di pulau Belitung. Harga lahan yang terus naik seiring meningkatnya industri pariwisata dan pembangunan kota baru, membuat usaha ini sangat menjanjikan.

“Bagaimanapun juga ini merupakan peluang bisnis masa depan yang sangat menjanjikan. Apalagi letak perkebunan kami di Belitung yang merupakan salah satu tujuan wisata setelah Bali dan Lombok tadi. Ditambah lagi kesuksesan film “Laskar Pelangi” merupakan pemicu suburnya alam investasi di sana. Oleh karena itu, Beltim kini banyak dilirik investor baik luar maupun dalam negeri,” terangnya.

Faktor lain dan tak kalah pentingnya sambung Sutandy, yakni masyarakat pulau Belitung bebas dari kerusuhan sosial, agama, ras dan politik. Kedua, kehidupan antar umat beragama, antar etnis, dan antar kelompok di sana cukup terjalin dengan toleransi baik, tenang, dan damai. Sehingga alam investasi dapat tumbuh subur. Begitupun kebijakan pemerintah daerah cukup memberikan iklim investasi yang kondusif.

“Nah, dengan kondisi seperti itu, mau apalagi kalau tidak kita garap dengan serius. Ini merupakan peluang besar. Untuk itu, sekali lagi kami sarankan, agar rekan-rekan mitra bisnis dan mitra investasi tanah air segera ambil keputusan dan segera bergabung dengan perusahaan kami mulai sekarang. Sebab, bisnis ini akan booming di masa mendatang,” himbaunya.

Nampaknya himbauan CEO BIG Group ini tidak berlebihan. Mengingat, Beltim yang kaya akan sumber daya alam berpotensi besar untuk dikembangkan. “Semoga dengan terjalinnya kerjasama nanti, kami berharap, kedepan mereka juga dapat menikmati keuntungan di masa-masa mendatang,” ujarnya sambil menambahkan, bagi calon mitra bisnis dan mitra investasi yang berniat bergabung dan terlibat langsung mengembangkan usahanya, sudah ada beberapa paket investasi menarik yang telah dipersiapkan.

Saat ini beberapa usaha baru yang tengah dikerjakan PT BIG Group adalah pembangunan mega proyek hotel bintang 5 di kawasan Pantai Punai bekerjasama dengan PMA asal Bahrain dan Pemda Beltim, pembangunan Resort & Villa di kawasan wisata Tanjung Batu Itam bekerjasama dengan PMA Timur Tengah di bawah bendera PT. Blue Ocean Resort, pabrik Tapioka pertama di Provinsi Babel yang akan berlanjut hingga ke seluruh kecamatan se-Babel di bawah PT. Botani Investama Global, pelabuhan serta perkebunan singkong, lada, jahe dan pepaya farietas unggul di bawah bendera PT. Botani IntiAgro Global.

Mengenal Sosok COE BIG Group

  1. Sutandy Setyawan, SE, MA, adalah seorang entrepreneur sejati yang sudah 20 tahun berpengalaman di industri networking. Hubungannya yang luas di berbagai negara Asia dan ketajaman bisnisnya telah menarik berbagai investor dari beberapa negara di China, Timur Tengah, dan Asean.

Dia juga telah 9 tahun bergerak di bidang Agro, Property, Resort dan Pertambangan. Dia juga salah satu pendiri UKM di Belitung Timur. Beberapa perusahaan yang saat ini dipimpinnya adalah PT. Botani Intiagro Global, PT. Botani Indoagro Global, PT. Botani Investama Global, PT. Trinity Solusi Persada, PT. Belitung Batubara Indonesia dan PT. Esindo Media Indonesia.

Insting usahanya kembali teruji setelah ia sukses mengembangkan usaha dibidang perkebunan singkong, Pabrik Tapioka dan lada. Selain itu, bukti ketajamannya menangkap peluang pasar juga dibuktikan dengan sukses mengembangkan usaha di bidang e-commerce, yang dewasa ini sedang bomming di tanah air. Di e-commerce, seluruh mitra usaha bebas memilih barang-barang keperluan sesuai yang diinginkan. Melalui e-share pula mitra cukup mudah bertransaksi cukup dengan menukar point.

Lulusan Sarjana Akutansi di Universitas Atmajaya Jakarta ini mengaku, sudah dari remaja dirinya ingin menjadi seorang enterpreneurship. Ini menjadi tujuannya, dan selalu fokus serta disiplin mengejarnya.

“Saya dari dulu ingin menjadi enterpreneurship, dan untuk mencapai tujuan itu, saya terus fokus dan dislipin, siapapun juga pasti bisa melakukan asal mau tekun dan ulet,” ujarnya.

Menurut suami Lily Suryani Djaelani, MA, ada beberapa kunci sukses jika seseorang ingin berhasil, kunci sukses pertama, adalah fokus dengan apa yang ingin dicapai. Jangan menyerah akan kegagalan, karena sukses itu tidak instan, sukses itu butuh proses. “Tujuan kita harus jelas dan fokus dan jangan berhenti sebelum tujuan itu tercapai, tapi kita harus ingat sukses besar adalah akumulasi dari sukses yang kecil-kecil,” ujar CEO yang tampak selalu ramah dan murah senyum kepada siapa saja ini.

Kedua, Sutandy menambahkan, agar harus berdoa. Karena spiritual itu adalah kekuatan, untuk mencapai tujuan. “Istri saya banyak berdoa untuk saya, biasanya sebelum gol dalam tujuan, itu kita butuh wisdom, kita harus banyak berdoa, power of pray very strong,” ujar Sutandy.

Ketiga, Sutandy mengatakan, yakni membangun karakter yang baik, untuk selalu maju mencapai tujuan yang jelas. Untuk mencapai itu, hal utama dilakukan adalah fokus pada kualitas bukan kuantitas. “Banyak orang cari uang, tapi kalau saya bekerja uang nomor dua, tapi yang pertama adalah kualitas,” jelasnya.

Terakhir, kunci suksesnya untuk mencapai ini harus didasari disiplin dan komitmen. Karena komitmen yang kuat menghasilkan mental dan fisik yang kuat. “Intinya kita harus berubah, karena musuh terbesar dalam hidup adalah diri kita sendiri,” ujar Sutandy.

Serius Garap Pangsa Lada

Sebagai komoditi unggulan yang memberi nilai ekonomis tinggi, lada (merica) juga menjadi basis usaha PT BIG Group – TPI di bidang perkebunan. Di dunia internasional, sejak jaman kolonial, Indonesia sudah dikenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah alam yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia.

Disamping itu, lada juga mempunyai peranan penting sebagai penghasil devisa, sumber pendapatan, penciptaan lapangan kerja dan juga mendukung tumbuhnya usaha dibidang agribisnis dan agroindustri. Pada tahun 2000 Indonesia masih menempati peringkat pertama sebagai negara penghasil lada terbesar di dunia, posisi ini kemudian tergeser sejak Vietnam mulai mengembangkan lada secara intensif. Penurununan posisi Indonesia juga dipengaruhi oleh melemahnya daya saing akibat rendahnya produktivitas petani lada nasional.

Untuk membangkitkan kembali kejayaan Indonesia sebagai negara pengekspor lada terbesar di dunia, PT BIG Group bersama-sama mitra usahanya kembali menggarap di sektor ini. Investasi awal lahan yang sudah ditanami dan siap panen seluas 50 Ha. Besaran lahan tersebut menurut CEO BIG Group – TPI, DR. Sutandy Setyawan, SE, MA, akan terus bertambah seiring meningkatnya jumlah mitra investasi yang berminat bergabung.

Hampir sebagian besar, pasokan lada Indonesia dalam perdagangan dunia dipenuhi dari Provinsi Bangka Belitung. Cita rasa serta aroma yang khas dan tidak dimiliki oleh jenis lada daerah lain membuat bidang usaha ini penuh menjanjikan.

Menurut Sutandy, prospek lada tetap cerah disebabkan karena berkembangnya usaha makanan, industri jamu farmasi, kosmetika yang menggunakan lada sebagai salah satu bahan baku, meningkatnya konsumsi dunia, konsumsi dalam negeri semakin meningkat dengan bertambahnya produk-produk industri makanan berbasis lada. Diversifikasi produk melalui pengembangan produk hilir (tepung lada, minyak lada, oleoresin, green pepper, lada segar) dalam kemasan dan meningkatnya kebutuhan industri dan obat-obatan (herbal) juga turut berperan.

Untuk meningkatkan produktivitas komoditi lada dan perluasan areal tanaman lada dan sebagai bentuk dukungan serta komitmennya kepada petani dan seluruh mitra usaha, BIG Group juga menggandeng masyarakat setempat untuk dipekerjakan. “Dengan kerjasama ini kami berharap produktivitas dan produksi lada di Beltim mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, baik petani, pekerja dan seluruh mitra usaha yang tergabung di perusahaan kami,” terangnya.

Upaya ini juga dimaksudkan untuk menjadikan Beltim sebagai pusat pengembangan sekaligus icon lada Belitung di masa mendatang, sekaligus memberdayakan petani dan pelaku usaha. “Harga lada di pasaran dunia saat ini sangat menggiurkan, namun produksi lada nasional masih kecil. Oleh karena itu, karena Beltim memiliki potensi besar pengembangan lada yang luas, makanya kami bersama-sama mitra bisnis serius menggarap sektor ini,” ujar Sutandy sambil menambahkan kedepan ia berharap agar Beltim bisa menjadi kota lada di Belitung.

Sebaliknya, sambung Sutandy, meskipun volume impor lada, jauh lebih kecil daripada volume ekspor, tetapi meningkat pesat. Neraca perdagangan lada Indonesia hingga tahun 2014 masih berada pada posisi surplus.

“Perkembangan lada di ASEAN dan dunia mempunyai kecenderungan yang hampir serupa dengan perkembangan lada nasional, dimana penurunan laju pertumbuhan terjadi pada luas tanaman menghasilkan pada periode lima tahun terakhir. Sedangkan produksi dan produktivitas cenderung meningkat. Untuk tingkat ASEAN dan dunia, Vietnam dan Indonesia memegang peranan sebagai produsen dan sekaligus eksportir lada terbesar. Hingga beberapa tahun mendatang, Indonesia diproyeksikan masih akan mengalami surplus. Surplus tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran dan industry olahan lada, serta untuk menambah devisa negara melalui kegiatan ekspor,” pungkas Sutandy. @Adv

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*