Pemimpin Harus Memiliki Jiwa Managerial, Visioner dan Konseptual

Budi Pramono (Foto : Lanjar)

PENCITRAAN, boleh jadi menjadi salah satu upaya jitu dalam meluluhkan hati rakyatnya. Sehingga masyarakat akan menilai bahwa pemimpin yang baik  adalah pemimpin yang memperhatikan rakyatnya, meski perhatian ini hanyalah semu. Sehingga ketika ada seorang pemimpin melakukan kegiatan ‘blusukan’ hal ini dijadikan salah satu barometer, bahwa pemimpin tersebut benar-benar memperhatikan rakyatnya.

Karena keberhasilan dalam pencitraan, dengan cara blusukan atau menyambangi masyarakat ini yang menjadikan pimpinan ini selalu dinanti rakyat. Dan hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab kemenangan calon gubernur dan wakil gubernur atau bupati dan wakil bupati dapat menang dalam pilkada Desember silam.

Namun apa jadinya jika seorang pemimpin hanya disibukkan dengan kerja ‘blusukan’ dan akhirnya jarang duduk di belakang meja karena keasyikan blusukan. Konsep atau program kerja yang semestinya disusun dibelakang meja pada akhirnya pula tidak tersusun. Sehingga program kerja yang harus dijalankan bukan berdasarkan penyusunan konsep yang matang. Dan apa jadinya jika pekerjaan yang dilakukan hanya sambil jalan.

Memandang kegiatan ‘blusukan’ yang kini menjadi tren beberapa pucuk pimpinan, menurut Lurah Desa Trihanggo Gamping Sleman, Budi Pramono, sah-sah saja sepanjang kegiatan tersebut balancing dengan program kerja yang dilaksanakan. Jangan karena keasyikan ‘blusukan’ pekerjaan seorang pimpinan yang seharusnya dikerjakan di belakang meja malah menjadi tidak teratur.

Ditambahkannya blusukan boleh-boleh saja akan tetapi jangan berlebihan karena seorang pimpinan itu bekerja secara konseptual. Blusukan yang dilakukan seorang pimpinan hendaknya dilakukan karena kejeliannya menanggap situasi dan kondisi, dengan blusukan dia, seorang pemimpin, harus jeli menangkap kebutuhan. Oleh karenanya dalam blusukan, semua harus terukur.

“Blusukan pada dasarnya menjadi bagian pekerjaan karyawan yang bekerja secara teknikal. Sementara pimpinan harus menyusun program dari belakang meja. Dan penyusunan program kerja dibutuhkan tempat yang representative dan nyaman untuk bekerja” sambung pria yang akrab disapa Momon ini.

Lebih jauh pria yang memiliki hobi berburu ini, dalam jiwa seorang pemimpin seharusnya telah tertanam jiwa managerial, memiliki visioner yang tinggi serta mampu membuat konsep yang matang dalam membangun suatu daerah, baik lurah, camat, bupati maupun pucuk pimpinan lainnya.

“Dengan tiga hal tersebut, seorang pimpinan akan dapay mengambil dan memutuskan kebijakan secara tepat dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh regulasi yang kadang tidak menentu” pungkas pria yang memiliki hobi berburu ini. Lanjar/jujuk

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*